Ferry Liando : Hoax Tidak Bisa DiNihilkan, Namun Efeknya Bisa Dikurangi

oleh -361 Dilihat
oleh
Nara Sumber amedia Gathering KPU

Manado Tempo— Keberadaan Hoax atau berita berita bohong seakan tumbuh subur dari Pemilu ke pemilu. Karenanya Hoax menjadi ancaman dalam setiap tahapan Pemilu. Ferry Liando mendeteksi empat indikator yang menyebabkan Hoax sulit dihilangkang yakni Kepentingan Politik, Kepentingan Bisnis, Ada media/ Sarana dan juga ada pasar.
“Parpol atau Calon yang ingin berkuasa dan tidak memiliki kemampuan menggunakan cara cara yang tidak benar, lebih parah lagi Hoax ini dijadikan alat bisnis untuk mendapatkan keuntungan karena ada sarana dan prasarananya seperti akan medsos yang dibayar karena banyak ditonton. Ini tantangan yang harus dihadapi bersama,” ungkap Akademisi Dr.Ferry Liando saat menjadi nara sumber pada Media Gathering yang digelar KPU Sulut di Lagoon Hotel Manado, Selasa (19/12/2023).

4 Indikator Hoax sulit dihilanglan oleh Dr.Ferry Liando

Tegas  Liando, Hoax ini tidak bisa dinihilkan atau hilangkan , namun efeknya bisa diminimalisir dengan melakukan langkah langkah pencegahan.
” Ada beberapa langkah atau tahapan yang perlu dilakukan yakni Identifikasi pemicu,
Kontra informasi , edukasi masyarakat dan Penegakkan hukum,” Jelasnya.

5 Langkah Cegah Hoax

Dalam hal ini tambah Liando, Pers memiliki peranan yang penting untuk melawan atau melakukan kontraindikasi terhadap berita berita bohong, jangan justru sebaliknya pers menjadi alat kepentingan politik individu atau parpol tertentu.
“Selain Parpol itu sendiri yang memberikan edukasi, media tak kalah penting dan  sejauh mana aparat penegak hukum memproses berita bohong ini bahkan memberikan hukuman bagi pelaku sehingga menimbulkan efek jera,” tegasnya.

Liando juga mengingatkan Jika penyebaran hoax tidak dicegah maka ada 3 peristiwa besar yang kemungkinan akan terjadi.
Baik konflik antar peserta, konflik antar pendukung maupun konflik sosial di masyarakat. Konflik bisa terjadi karena proses politik adu domba atau propaganda akibat hoax.

“Jika tidak di cegah maka berpotensi adanya delegitimasi hasil pemilu. Hal ini akan berbahaya, karena bisa saja pendukung atau tim pemenangan dari calon yang kalah akan membuat perhitungan atas kekalahannya itu.

Jikapun hasil pemilu akhirnya dapat di terima, namun dukungan atas pemerintahan yang berkuasa sangat lemah akibat keyakinan masyarakat yang keliru karena penyebaran berita hoax,” jelasnya.

Liando juga menuturkan, salah satu cara untuk mencegah adalah penegakan hukum. Jika para pelaku kejahatan penyebaran berita hoax tidak di tindaki maka perbuatan ini akan terus berkembang..

“Sebab hoax kerap juga merugikan penyelenggara sendiri. Banyak pihak yang menyebarkan berita-berita bohong tentang penyelenggara. Pada pemilu 2019, salah satu objek yang beritakan adalah adanya kertas suara yang sudah tercoblos sebanyak 7 kontainer sebelum ke TPS. Pada pemilu 2019 terdapat 3.356 berita hoax yang teridentifikasi,” tandasnya.

Sementara itu, Tim Pemeriksa Daerah Victory Rotty mengatakan media memiliki peranan penting bagi suksesnya pemilu.

“Media berperan sangat penting dalam demokrasi apalagi menangkal berita berita hoax, oleh sebab itu diminta untuk bersinergi dalam pengawasan jalannya proses pemilu,” ungkapnya.

Sementara itu Koordinator Divisi SDM, Organisasi dan Diklat Bawaslu Sulut Erwin Sumampouw menyatakan berbagai upaya telah dilakukan terkait dengan Hoax yakni bekrejasama dengan direktorat kominfo RI untuk mentake down akun akun diluar akan resmi yang mengkampanyekan atau menarasikan berita bohong ,ujaran kebencian.
“Bawaslu juga telah melakukan kerjasama dengan meta, untuk FB dan Instagram agar melakukan takedown. Sudah 60 akun yang ditakedown. Melakukan kerjasama dengan Badan Sandi dan Cybercrime untuk memproses pelaku menyebar hoax jika terpenuhi syarat materil dan formil,” jelas Erwin

Panel diskusi ini berjalan lancar dipandu oleh Pejabat Fungsional Ahli Madya KPU Sulut Raymond Mamahit.

(Deasy Holung)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.