ManadoTEMPO-Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, Selasa 06 Januari 2025 pagi langsung menggelar rapat terkait percepatan penanganan banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).
Di hadapan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Gubernur Yulius menegaskan bahwa negara harus hadir secara penuh dan terukur di tengah masyarakat yang sedang tertimpa musibah saat rakor di Wisma Negara Bumi Beringin, Manado.
Dalam forum itu, Gubernur Yulius pengarahan lintas sektor, memastikan seluruh unsur bergerak dalam satu garis komando.
Dengan nada tegas, Gubernur Yulius memerintahkan seluruh perangkat daerah, TNI-Polri, serta instansi teknis untuk bekerja maksimal tanpa menunggu situasi benar-benar normal. Ia menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas tertinggi.
“Dalam kondisi seperti ini tidak ada ruang untuk bekerja setengah-setengah. Kita harus all out, fokus pada keselamatan rakyat dan percepatan pemulihan,” ujar Gubernur Yulius.
Sebagai pengendali utama lapangan, Gubernur juga memastikan jalur koordinasi vertikal berjalan paralel. Ia menyampaikan bahwa laporan situasi telah disampaikan langsung kepada Menteri Dalam Negeri, dan pemerintah pusat memberikan dukungan penuh terhadap langkah cepat yang diambil Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Gubernur secara detail memetakan hambatan utama di lapangan, terutama cuaca ekstrem yang mengganggu distribusi bantuan antarwilayah kepulauan. Namun, keterbatasan tersebut tidak dijadikan alasan untuk memperlambat respons.
“Cuaca memang menjadi tantangan, tetapi penanganan tidak boleh berhenti. Evakuasi, logistik, dan pelayanan dasar harus tetap berjalan,” tegasnya.
Dalam komando lapangannya, Gubernur Yulius menginstruksikan BMKG untuk menyuplai data cuaca secara berkelanjutan sebagai dasar pengambilan keputusan cepat. TNI dan Polri diminta meningkatkan status kesiapsiagaan dan memperkuat pengamanan di titik-titik rawan, termasuk wilayah sekitar yang berpotensi terdampak bencana susulan.
Ia juga mengingatkan seluruh unsur agar tidak terjebak pada penanganan satu lokasi semata. Menurutnya, pendekatan antisipatif mutlak diperlukan di wilayah dengan kontur ekstrem dan curah hujan tinggi.
“Jangan hanya fokus di satu titik. Kita harus membaca potensi bencana lanjutan dan bergerak sebelum kejadian berikutnya terjadi,” terang Gubernur Yulius.
Dalam aspek kemanusiaan, Gubernur menegaskan kesiapan posko pengungsian dan dapur umum sebagai indikator kehadiran negara di tengah warga terdampak. Ia meminta kebutuhan dasar pengungsi dipenuhi tanpa jeda waktu.
Berdasarkan laporan terkini, korban meninggal dunia tercatat sebanyak 14 orang, sementara empat warga masih dalam pencarian.
Sekitar 177 jiwa terdampak membutuhkan penanganan terpadu, mulai dari tempat tinggal sementara hingga pemulihan infrastruktur dasar.
Untuk membuka akses dan mempercepat pembersihan material bencana, Gubernur memerintahkan pengerahan empat unit alat berat dan dua unit dump truck. Langkah ini dilakukan guna memastikan jalur logistik dan evakuasi dapat segera berfungsi normal.
Dari sisi pembiayaan, Gubernur memastikan tidak ada kendala anggaran. Pemerintah Kabupaten Sitaro telah menyiapkan dana darurat Rp3 miliar, sementara Pemerintah Provinsi Sulut mengalokasikan Rp5 miliar yang siap ditambah sesuai kebutuhan riil di lapangan.
Menutup arahannya, Gubernur Yulius mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan. Ia membuka ruang partisipasi publik melalui posko bantuan resmi di Kantor Gubernur Sulawesi Utara.
“Penanganan bencana adalah kerja bersama. Pemerintah memimpin, masyarakat menguatkan. Kita harus bergerak sebagai satu kesatuan,” pungkasnya.
(tonnymait)
