Gubernur Sulut Ajak Warga Hidupkan Semangat Juang pada Peringatan 80 Tahun Peristiwa Merah Putih

oleh -1552 Dilihat
oleh

ManadoTEMPO-Gubernur Sulawesi Utara memimpin upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih yang digelar di Lapangan KONI Sario, Manado, Sabtu 14 Pebruari 2026 pukul 07.30 WITA. Peringatan tahun ini terasa istimewa karena menandai delapan dekade atau 80 tahun peristiwa heroik yang menjadi tonggak sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Utara mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan bahwa angka 80 tahun bukan sekadar hitungan waktu, melainkan simbol ketangguhan dan bukti bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah padam di Bumi Nyiur Melambai.

“Hari ini, tepat delapan dekade setelah fajar patriotisme membara di tanah Sulawesi Utara, kita berdiri untuk menghormati lembaran sejarah yang agung. Angka 80 tahun adalah simbol ketangguhan dan bukti bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah padam,” ujar Gubernur Yulius Selvanus.

Ia mengingatkan kembali peristiwa bersejarah di Tangsi Militer Teling yang menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah. Aksi heroik para pejuang dengan menurunkan bendera penjajah, merobek warna birunya, dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih disebut sebagai “proklamasi kedua” bagi masyarakat Sulawesi Utara.

Gubernur juga mengenang keberanian para tokoh pejuang seperti Letkol Charles Choesj Taulu, Sersan Servius Dumais Wuisan, Kopral Mambi Runtukahu, dan Bernard Wilhelm Lapian yang menjadi simbol perlawanan rakyat Sulut terhadap NICA saat itu.

Menurtnya, peringatan tahun ini mengusung tema “Bhakti Kami Demi Pertiwi, dari Sulut untuk Nusantara”, sebagai penegasan komitmen Sulawesi Utara untuk tetap menjadi garda terdepan menjaga keutuhan NKRI.

“Ini adalah janji setia bahwa Sulawesi Utara akan selalu menjadi garda terdepan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Tak sekadar seremoni, rangkaian kegiatan tahun ini diperluas dengan pelaksanaan Merah Putih Panahan Sulut Open sebagai simbol presisi dan fokus generasi muda, serta pementasan drama kolosal untuk menghadirkan kembali getaran pengorbanan para pejuang. Pembagian bunga dan cokelat kepada peserta juga dimaknai sebagai pesan bahwa perjuangan hari ini berlandaskan cinta kepada tanah air dan sesama.

Di hadapan jajaran Forkopimda, pimpinan dan anggota DPRD, para kepala daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, mahasiswa, pelajar hingga insan pers, Gubernur menginstruksikan tiga hal penting kepada seluruh elemen masyarakat.

Pertama, memperkuat literasi sejarah agar generasi muda menjadi bangsa yang cerdas akan akarnya dan tidak mudah tergerus arus global.

Kedua, memperkokoh sinergi tanpa ego sektoral antara pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat demi membangun Sulawesi Utara yang maju dan sejahtera. Ketiga, mentransformasi semangat juang dengan menghadapi musuh masa kini yakni kemiskinan dan perpecahan.

“Musuh kita hari ini adalah kemiskinan dan perpecahan. Kita harus memiliki semangat pantang menyerah untuk memenangkan persaingan di dunia modern,” tandasnya.

Upacara berlangsung khidmat dan penuh semangat patriotisme. Gubernur menutup sambutannya dengan ajakan kepada seluruh masyarakat untuk terus menanamkan tekad bulat menjaga harga diri dan kesetiaan kepada bangsa.

“Jangan biarkan api patriotisme ini redup. Bhakti kami demi Pertiwi, dari Sulut untuk Nusantara,” pungkasnya.

Hingga berita inj terbit, rangkaian peringati peristiwa Merah Putih di lapangan KONI Sulut masih berlangsung diawali devile.

(tonnymait)