Isu Iklim Kelautan Kurang Dilirik, Dampaknya Justru Mengancam

oleh -1532 Dilihat
oleh

ManadoTEMPO, Minut-Kesadaran publik terhadap perubahan iklim di Indonesia masih tergolong rendah. Survei nasional beberapa tahun terakhir bahkan menunjukkan tingkat keraguan masyarakat terhadap krisis iklim masih tinggi.

“Masalah utamanya adalah misinformasi dan minimnya pemahaman,” ujar Senior Analyst Ocean Climateworks Centre, Wira Ditama Pratama, saat menjadi pembicara dalam Green Press Community (GPC) 2026 di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Sabtu, 7 Februari 2026.

Wira menjelaskan, sektor kelautan dan kawasan pesisir merupakan wilayah yang paling cepat merasakan dampak perubahan iklim, mulai dari banjir rob, abrasi pantai, hingga cuaca ekstrem.

“Jika ditarik lebih luas, ini bukan sekadar krisis iklim, tetapi sudah mengarah pada darurat ekologis,” katanya.

Ia menilai masih kuat anggapan bahwa pemanfaatan laut demi petumbuhan ekonomi selalu berujung pada kerusakan lingkungan. Padahal, riset Climateworks Centre mencatat sekitar tiga perempat wilayah Indonesia berupa perairan yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$1,3 triliun dari sektor maritim dan ekonomi biru. Selain itu, Indonesia menyimpan sekitar 17 persen cadangan karbon biru global melalui mangrove, padang lamun, dan rawa pesisir.

“Melindungi laut justru mampu menekan emisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Bahkan, potensi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai delapan persen per tahun,” ujar Wira. Ia menambahkan, penguatan tata kelola, perbaikan data, pembiayaan berkelanjutan, serta pemanfaatan sains menjadi kunci menuju Indonesia maju 2045.

Sementara perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Fegi Nurhabni, mengakui isu iklim berbasis kelautan belum menjadi perhatian utama di tingkat global. Meski demikian, pemerintah terus mendorong agar agenda tersebut masuk dalam percakapan internasional.

“Upaya mitigasi terus kami lakukan, termasuk rehabilitasi dan konservasi pesisir, salah satunya di Sulawesi Utara,” kata Fegi. Ia menambahkan, KKP juga memperluas kawasan konservasi laut dan memperketat pengawasan wilayah pesisir serta pulau-pulau kecil.

Akademisi Mahawan Karuniasa dari ISSG-FOAM menilai, selain mitigasi, pemulihan ekosistem seperti terumbu karang dan mangrove harus dipercepat. “Masyarakat pesisir juga perlu dibekali kemampuan adaptasi agar lebih tangguh menghadapi perubahan iklim,” ujarnya.

Sedangkan Armyanda Tussadiyah dari Pesisir Lestari menyebut pendekatan karbon biru sebagai salah satu solusi paling efektif di sektor kelautan. “Ekosistem seperti mangrove mampu menyerap emisi jauh lebih besar dibandingkan vegetasi daratan, sekaligus memberi manfaat langsung bagi warga pesisir,” katanya.
(tonnymait)