ManadoTEMPO – Momentum peringatan Peristiwa 14 Februari 1946 di Manado kembali membangkitkan semangat heroisme rakyat Sulawesi Utara. Dalam upacara yang digelar di Lapangan KONI, Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE menghadirkan suasana reflektif yang membawa publik menelusuri kembali jejak perjuangan di Tangsi Militer Teling, delapan puluh tahun silam.
Peristiwa bersejarah itu menjadi tonggak penting eksistensi kemerdekaan Republik Indonesia di Bumi Nyiur Melambai. Nama-nama seperti Letkol Charles Taulu, Sersan Servius Dumais Wuisan, Kopral Mambi Runtukahu, hingga Bernard Wilhelm Lapian kembali disebut sebagai simbol keberanian rakyat yang menolak tunduk pada penjajahan.
Kala itu, para pejuang dengan keberanian luar biasa mengambil langkah tegas menghadapi NICA. Mereka menyerbu markas militer, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, lalu mengibarkan Merah Putih sebagai pernyataan sikap bahwa Sulawesi Utara berdiri tegak bersama Republik Indonesia.
Sikap Gubernur Yulius Selvanus yang memberi ruang penghormatan besar terhadap peristiwa tersebut mendapat apresiasi dari Ikatan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (IKA GMNI) Sulawesi Utara.
Ketua IKA GMNI Sulut, Falen Umbokahu, menyatakan penghargaan atas komitmen gubernur dalam merawat ingatan sejarah daerah.
“Kami melihat ini sebagai bentuk keseriusan pemerintah provinsi dalam menjaga memori kolektif perjuangan rakyat 14 Februari. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi penghormatan terhadap sejarah yang membentuk identitas daerah,” ujar Falen.
Ia mengutip pesan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, tentang pentingnya Jas Merah—jangan sekali-kali melupakan sejarah.
“Pesan Bung Karno itu relevan sepanjang masa. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi menjadi fondasi dalam membangun karakter generasi penerus,” tambah mantan Sekretaris DPC GMNI Minahasa tersebut.
Menurutnya, peringatan 14 Februari harus terus dirawat sebagai energi moral bagi masyarakat Sulut agar tidak tercerabut dari akar perjuangan pendahulunya.
“Semangat Merah Putih yang berkibar di Teling 1946 harus tetap hidup dalam tindakan nyata hari ini,” tutup alumni GMNI Minahasa itu.
(tonnymait)
