Langkah Cepat Wapres Gibran di Manado: Dari Bandara ke Rumah Duka Korban Gempa Bersama Gubernur Yulius

oleh -1577 Dilihat
oleh

ManadoTEMPO-Setibanya di Bandara Sam Ratulangi, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka disambut oleh Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling bersama jajaran Forkopimda, tak banyak buang waktu untuk seremoni. Agenda utama sudah menanti menyapa langsung warga yang berduka.

Rombongan pun segera bergerak menuju Desa Tateli, Minahasa. Di sanalah duka itu berpusat, di rumah keluarga almarhum Deitje Lahia salah satu korban jiwa dalam gempa berkekuatan 7,6 magnitudo yang mengguncang wilayah ini pada Kamis 02 April 2026.

Suasana di rumah duka terasa sunyi dan berat. Isak tangis keluarga masih terdengar lirih. Di tengah situasi itu, kehadiran Wapres Gibran membawa nuansa berbedabukan sekadar kunjungan pejabat negara, melainkan bentuk empati yang hadir secara langsung.

Ia duduk bersama keluarga, mendengarkan, berbicara dengan tenang, dan menyampaikan belasungkawa. Tidak ada jarak yang terasa. Hanya percakapan sederhana yang penuh makna, di antara mereka yang sedang berusaha menerima kehilangan.

Almarhum Deitje Lahia diketahui meninggal dunia setelah tertimpa material bangunan yang runtuh di Hall B Gedung KONI saat gempa terjadi sebuah peristiwa yang masih membekas di ingatan warga.

Bagi pemerintah daerah, kunjungan ini bukan hanya simbolik. Gubernur Yulius Selvanus Komaling menilai kehadiran Wakil Presiden menjadi bukti bahwa negara hadir di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.

Ia menyebut, perhatian langsung dari pemerintah pusat menjadi energi tambahan bagi seluruh jajaran di daerah untuk mempercepat proses pemulihan, baik dari sisi penanganan korban maupun perbaikan fasilitas yang rusak.

Kunjungan Wapres di Sulawesi Utara sendiri tidak berhenti pada agenda melayat. Sejumlah lokasi terdampak di Manado dijadwalkan untuk ditinjau, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Kota Bitung guna bertemu masyarakat.

Di tengah upaya bangkit dari bencana, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa pemulihan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang kehadiran, kepedulian, dan kebersamaan dalam menghadapi duka.

(tonnymait)